Komputer

Beberapa Aspek dalam Mempelajari Pemrograman

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis sekilas mengenai langkah-langkah awal untuk belajar pemrograman. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam tulisan tersebut, hanya saja pembahasannya tidak seberapa tuntas. Ada sejumlah aspek yang masih belum sempat diulas saat itu. Berikut adalah beberapa hal yang saya rasa perlu untuk ditambahkan.

Yang harus diingat dalam belajar programming adalah lebih pada konsep dan ide dasar pemrograman dibandingkan sintaks atau bahasa yang dipelajari. Pemrograman pada dasarnya tidak lebih tidak kurang dari menuliskan solusi suatu masalah dalam bahasa komputer. Diperlukan tiga hal untuk melakukan ini: pemahaman masalah tersebut, solusi masalah tersebut, dan pemahaman tatabahasa (sintaks) bahasa pemrograman yang dipakai.

Banyak orang ingin melompat langsung ke bahasa pemrograman, tanpa mau melihat dan belajar untuk melihat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi terlebih dulu. Ini adalah pendekatan yang sangat keliru. Sebelum belajar bahasa pemrograman tertentu secara khusus, sebaiknya pelajari terlebih dahulu ketrampilan membuat flowchart maupun menulis algoritma. Ini penting sebagai alat bantu untuk merumuskan alur logika dan konsep dari program kita sebelum dituangkan dalam baris-baris bahasa pemrograman.

Disamping itu, pastikan untuk memiliki dasar-dasar matematika yang diperlukan. Aljabar Boolean dasar di SMU itu minimum. Untuk yang mau kerja di numerik, minimal ingat-ingat lagi kalkulus, aljabar linear, dan statistik. Lupakan saja belajar pemrograman kalau matematikanya karatan.

Selanjutnya fokuskan dahulu pada konsep dan teknik dasar pemrograman: kondisi, loop, iterasi, seleksi, fungsi, pencabangan, algoritma, rekursi, menggunakan library, subprogram, pemrograman berorientasi objek. Pahami bagaimana menggunakan konsep-konsep dasar tersebut untuk menyelesaikan masalah dan bagaimana menuliskannya. Jika konsep-konsep dasar sudah paham, tidak akan ada masalah pindah ke bahasa manapun juga.

Berikutnya, soal bahasa pemrograman yang akan dipelajari. Pemrograman dapat diklasifikasikan sebagai berikut [Rechenberg]:

1. Berorientasi prosedur (procedural oriented)
2. Berorientasi fungsi (functional oriented)
3. Berorientasi logik (logic oriented)
4. Berorientasi obyek (object oriented)

Masing-masing memiliki kelebihan tersendiri. Kadangkala dalam membangun suatu aplikasi dibutuhkan gabungan metode pemrograman tersebut. Misalnya dalam C++ dan Java (bahasa pemrograman berorientasi obyek), kita masih dapat menemukan tehnik-tehnik pemrograman berorientasi prosedur dalam setiap method/function member dalam obyek-obyeknya.

Suatu bahasa pemrograman pada asalnya hanya dapat digunakan dalam satu metode. Pascal mulanya untuk procedural-oriented, Lisp untuk functional-oriented, Smaltalk untuk object-oriented dan lain-lain. Seiring dengan perkembangan tehnologi informasi dan komputer, puluhan bahkan ratusan bahasa pemrograman baru lahir. Masing-masing memiliki keunikan dan kelebihan spesifik. Ada yang khusus untuk jenis komputer tertentu, ada pula yang khusus untuk paradigma pemrograman tertentu.

Seringkali mereka yang baru mulai belajar memprogram lantas terjebak pada masalah pilihan bahasa pemrograman yang pertama kali dipelajari. Pemilihan bahasa pemrograman pertama merupakan hal yang krusial, sebab bahasa pemrograman pertama akan mempengaruhi cara berfikir programer di masa yang akan datang. Programer dengan bahasa pertamanya Pascal akan lebih mudah berpindah ke bahasa pemrograman yang memiliki paradigma sama, yaitu berorientasi prosedur seperti C, Modula, atau Oberon. Tetapi programer tersebut akan kesulitan untuk berpindah ke bahasa pemrograman dengan paradigma yang lain seperti CLOS dan Scheme, yaitu bahasa pemrograman keluarga Lisp.

Selain daripada itu, setelah menentukan paradigmanya, masalah berikutnya yang muncul adalah memilih bahasa pemrograman yang paling dominan dalam paradigma tersebut. Misalnya, untuk paradigma berorientasi fungsi manakah yang paling tepat diajarkan kepada pemula, apakah CLOS atau Scheme atau EmacsLisp. Masalah kedua ini berkaitan dengan, kemudahan dalam belajar, dialek dalam keluarga bahasa pemrograman tersebut, atau bahkan kecenderungan pasar.

Di perguruan tinggi, biasanya bahasa pemrograman pertama yang diajarkan pada mahasiswa adalah bahasa pemrograman yang berorientasi prosedur (seperti Pascal atau C). Hal ini dikarenakan paradigma tersebut lebih sering dipakai di dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu, disesuaikan dengan situasi dan kondisi diajarkan paradigma lain. Tetapi ada pula lembaga pendidikan yang memilih bahasa ML, bahasa dengan paradigma berorientasi fungsi. Alasannya karena sebagian mahasiswa sebelumnya telah memiliki ketrampilan dan pengetahuan dalam paradigma pemrograman berorientasi prosedur, demi alasan keadilan dipilihlah bahasa dan pemrograman yang asing untuk sebagian besar mahasiswa. Dengan demikian sebagian besar mahasiswa memulai belajar pemrograman dari awal yang sama.

Orientasi pendidikan pemrograman sering menjebak peserta didik untuk menjadi tergantung pada standar perusahaan komersial tertentu. Hal ini bisa dihindari dengan berfokus pada ide dan konsep dari suatu bahasa ketimbang detail atau sintaks bahasa bersangkutan. Usahakan untuk tidak bergantung pada software komersial dan rilis software. Alias, mengaculah ke standar internasional (seperti ANSI/ISO) ketimbang standar yang khusus dikembangkan oleh vendor tertentu.

Pesan dari Penghuni Bumi

Salah satu bagian paling terkenal dari misi Voyager adalah rekaman pesan-pesan dari Bumi yang dibawanya. Rekaman itu tersimpan dalam sebuah piringan tembaga berlapis emas berdiameter 12 inci. Piringan itu menyimpan suara-suara dan gambar-gambar yang mewakili keragaman penghidupan dan kebudayaan Bumi. Terekam didalamnya ucapan salam yang diucapkan dalam 60 bahasa (bahasa Indonesia diwakili dengan ucapan salam: “Selamat malam hadirin sekalian. Selamat berpisah, dan sampai bertemu lagi di lain waktu”), berikut 115 gambar (Indonesia diwakili oleh gambar penari Bali yang dipotret oleh Donna Grosvenor) dan rekaman musik sepanjang satu setengah jam dari berbagai kebudayaan (Indonesia terwakili oleh sebuah gending Jawa, “Ketawang Puspawarna”, ciptaan Mangkunegara IV).

Lebih jauh tentang rekaman ini diungkapkan oleh mendiang Carl Sagan (astronom dari Universitas Cornell yang turut terlibat dalam proyek ini) dalam buku “Murmurs of Earth”. Buku ini pertama kali diterbitkan pada 1978 dan dicetak ulang terakhir kali pada 1992 oleh Warner News Media. Cetakan ini juga disertai CD-ROM yang memuat rekaman Voyager. Disamping itu, dalam sejumlah bukunya, Carl Sagan juga kerap menyinggung soal rekaman yang dibawa Voyager. Berikut saya kutipkan beberapa paragraf dari bukunya, “Cosmos”:

Dua buah pesawat angkasa Voyager diluncurkan untuk diarahkan ke bintang-bintang. Masing-masing pesawat ini dilengkapi dengan piringan tembaga berlapis emas dengan jarum pembaca rekaman di piringan itu. Pada sampul alumuniumnya dicantumkan cara pemakaiannya. Kita mengirimkan hal-hal yang berhubungan dengan gen kita, dengan otak kita, dan tentang perpustakaan kita kepada mahluk-mahluk lain yang mungkin berlayar mengarungi lautan ruang antar bintang. Tetapi kita tidak hanya mengirimkan ilmiah saja. Setiap peradaban yang bisa bertemu dengan Voyager – yang pemancarnya sudah lama mati – di kedalaman ruang antar bintang, pasti memiliki ilmu jauh lebih dalam dari yang kita miliki. Yang kita inginkan adalah, kita ingin mengatakan kepada mereka segala sesuati yang merupakan keunikan kita … Meskipun para pembaca mungkin tidak tahu bahasa-bahasa Bumi, kita kirimkan ucapan salam yang diucapkan dalam enam puluh bahasa, termasuk salam dari paus bungkuk. Kita kirimkan foto-foto manusia dari seluruh dunia yang sedang saling menjaga, belajar, membuat alat, dan berkarya seni serta sedang memecahkan masalah dan tantangan. Ada rekaman musik indah yang berlangsung selama satu setengah jam dari banyak kebudayaan. Beberapa dari mereka mengungkapkan perasaan kesepian kosmik kita, keinginan kita untuk mengakhiri keterasingan kita, dambaan kita untuk mengadakan hubungan dengan mahluk lain di kosmos. Kita kirimkan juga rekaman-rekaman suara yang mungkin sudah terdengar di Bumi jauh di masa lalu, saat kehidupan belum muncul, sampai pada evolusi spesies manusia dan sampai pada suara-suara dari zaman teknologi yang sangat berkembang sekarang ini. Inilah, seperti suara-suara paus baleen, lagu cinta yang dinyanyikan di ruang angkasa yang besar. Banyak, atau mungkin sebagian besar, pesan kita yang tidak mungkin ditafsirkan. Kita tetap mengirimkannya, karena sangat penting untuk dicoba.

Dalam hubungan ini, kita masukkan juga di pesawat angkasa Voyager ini pikiran dan perasaan seseorang, kegiatan listrik otak, jantung, mata, dan ototnya. Semuanya direkam dalam waktu satu jam, dimampatkan dalam waktu dan dimasukkan ke dalam rekaman yang ada di pesawat angkasa ini. Bisa dikatakan, kita telah mengirimkan ke dalam kosmos rekaman pikiran dan perasaan seorang manusia warga planet Bumi di suatu hari di bulan Juni 1977. Mungkin para pernerima hanya membiarkannya saja, atau menganggap rekaman-rekaman yang ada di dalamnya sebagai rekaman dari suatu pulsar, yang memang agak mirip. Atau mungkin suatu kebudayaan yang kemajuannya jauh melampaui kita, sampai tak bisa kita bayangkan, akan bisa menerjemahkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang terekam itu, dan menghargai usaha-usaha kita untuk berbagi rasa dengan mereka.

Informasi yang ada di dalam gen kita sangatlah tua – sebagian besar lebih dari beberapa juta tahun umurnya, dan ada yang miliaran tahun. Informasi yang tahan lama atau awet bukanlah karakteristik manusia. Akibat adanya erosi di permukaan Bumi, monumen-monumen dan peninggalan-peninggalan kita, bila dibiarkan begitu saja, tidak akan bertahan sampai di masa depan yang jauh. Tetapi piringan yang ada di Voyager sedang bergerak keluar dari tata surya. Erosi di ruang antar bintang – sebagian besar karena sinar kosmik atau butir-butir debu yang menimpanya – begitu lambatnya sehingga informasi yang ada di piringan ini akan bertahan sampai semiliar tahun. Tetapi lestarinya kenangan spesies manusia akan jauh lebih lama bertahan dibandingkan dengan lekuk-lekuk logam yang dicetak di piringan yang dibawa Voyager ke dalam ruang antar bintang.

Kelanjutan Misi Voyager

Kelanjutan misi Voyager kini nampaknya tinggal menghitung hari. Pemotongan anggaran yang dialami oleh Earth-Sun System Division di NASA, dari 74 juta dollar AS pada tahun ini menjadi hanya 54 juta dollar pada tahun fiskal mendatang, membuat beberapa proyek terpaksa harus ditinggalkan. Misi Voyager kemungkinan besar termasuk diantara proyek-proyek yang akan ditutup.

Voyager adalah nama untuk sepasang wahana kembar yang diluncurkan oleh NASA pada 1977. Pada mulanya kedua wahana ini disebut Mariner Jupiter/Saturn A dan B. Nama Voyager sendiri mulai dipakai 6 bulan setelah peluncuran keduanya. Voyager 1 diluncurkan pada 5 September 1977, sementara kembarannya, Voyager 2, diluncurkan 2 minggu lebih awal, tepatnya pada 20 Agustus 1977. Keduanya mengemban misi untuk mempelajari planet-planet bagian luar dari tata surya kita. Kedua wahana Voyager diarahkan untuk bertemu dengan orbit planet Jupiter dan Saturnus, sementara Voyager 2, selain mengunjungi kedua planet tersebut, lantas melanjutkan pengembaraannya menuju Uranus dan Neptunus.

Secara umum, kedua wahana ini bertugas untuk mempelajari karakteristik masing-masing planet yang disinggahinya yang meliputi: (1) Menyelidiki sirkulasi, dinamika, struktur, dan komposisi atmosfir planet; (2) Menentukan karakteristik morfologi, geologi, serta keadaan fisik dari satelit (bulan) planet bersangkutan; (3) Mengukur secara lebih akurat menganai massa, ukuran, dan bentuk dari planet, satelit, serta cincin yang mengelilnginya; dan (4) Menentukan struktur medan magnetik dan karakteristik energi partikel dan plasma disana.

Walaupun diluncurkan 16 hari sesudah peluncuran Voyager 2, arah lintasan Voyager 1 diatur agar lebih cepat mencapai Jupiter ketimbang kembarannya itu. Pada 5 Desember 1977, saat kedua wahana itu masih berada di sabuk Asteroid, Voyager 1 berhasil melampaui Voyager 2, dihitung dari jaraknya terhadap Matahari. Voyager 1 mencapai titik terdekatnya dengan Jupiter pada 5 Maret 1979, dan Saturnus pada 12 November 1980. Sementara itu, Voyager 2 mencapai titik terdekatnya dengan Jupiter pada 9 Juli 1979, dan Saturnus pada 5 Agustus 1981. Selanjutnya, Voyager 2 mengunjungi Uranus yang berhasil dicapai pada 24 Januari 1986, dan Neptunus, pada 25 Agustus 1989.

Misi kedua Voyager menghasilkan sejumlah besar data ilmiah yang tidak mungkin bisa diulas semuanya dalam catatan ini. Beberapa diantaranya yang paling menonjol adalah penemuan magnetosfer pada Uranus dan Neptunus. Tidak seperti pada planet lainnya, magnetosfer di kedua planet ini diketahui memiliki sudut inklinasi yang besar dan berlawanan dengan sumbu rotasi planet. Kedua misi Voyager juga telah mencatatkan penemuan 22 satelit baru: 3 di Jupiter, 3 di Saturnus, 10 di Uranus, dan 6 di Neptunus. Gambar-gambar yang terkirim juga menunjukkan adanya aktifitas vulkanis di Io (salah satu bulan Jupiter) dan struktur semacam geyser serta atmosfir di sebuah bulan Neptunus, Triton. Misi Voyager juga berhasil menemukan zona aurora di Jupiter, Saturnus, dan Neptunus. Sementara itu, di Neptunus yang semula diduga terlalu dingin untuk terjadi aktifitas pada atmosfirnya, ternyata ditemukan badai permanen berskala besar yang ditandai oleh bintik besar berwarna hitam di permukaannya.

Baik wahana Voyager 1 maupun 2 telah mengirimkan masing-masing sekitar 18.000 gambar dari Jupiter dan 16.000 gambar dari Saturnus. Sementara dalam pengembaraannya di Uranus dan Neptunus, Voyager 2 mengirimkan 6000 gambar dari Uranus dan 10.000 dari Neptunus. Gambar-gambar yang dikirimkan kedua wahana Voyager mencakup foto-foto planet, satelit beserta cincinnya. Pada 14 Februari 1990, pengendali di Bumi sempat menghidupkan kembali kamera Voyager 1 untuk mengambil gambar yang kemudian menjadi “potret keluarga” tata surya yang pertama. Gambar tersebut berupa mosaik 60 frame foto yang menggambarkan Matahari dan enam planetnya (Venus, Bumi, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus). Inilah gambar pertama dari keluarga Matahari yang diambil dari “luar” tata surya. Setelah pengambilan gambar bersejarah ini, kamera Voyager 1 kembali dimatikan. Kali ini untuk selamanya.

Setelah menuntaskan misinya mengunjungi planet-planet, kedua wahana Voyager lantas diarahkan keluar tata surya. Voyager 1 diarahkan ke utara ekliptika, dengan kecepatan sekitar 3.50 AU per tahun. Pada 17 Februari 1998, Voyager 1 mencatatkan rekor sebagai benda buatan manusia yang terjauh dari Matahari setelah melampaui jarak wahana Pioneer 10 yang diluncurkan sebelum era Voyager. Sementara itu, Voyager 2 diarahkan ke selatan ekliptika dengan kecepatan sekitar 3.13 AU/tahun.

Pada 1989, selepas pertemuan Voyager 2 dengan Neptunus, NASA memberi nama baru untuk misi kedua wahana itu sebagai Voyager Interstellar Mission (VIM). Keduanya kini mengemban misi untuk melakukan pengukuran medan magnet, plasma, dan partikel di ruang antrar planet. Kini, kedua wahana itu bergerak menuju wilayah yang dikenal sebagai heliopause. Ini adalah tempat sangat luas dimana pengaruh Matahari kita berakhir dan partikel-partikel yang dipancarkan dari permukaannya menabrak gas tipis di antara bintang-bintang. Di perbatasan tata surya, aliran partikel-partikel bermuatan yang dipancarkan Matahari – disebut sebagai angin Matahari – akan terhenti. Dengan demikian, Voyager kini berhadapan dengan material yang berasal dari ruang antar bintang.

Sempat diperdebatkan, apakah Voyager telah mencapai wilayah yang dikenal sebagai ‘termination shock region’. Termination shock adalah suatu terminologi yang dipakai untuk menggambarkan wilayah dimana pengaruh matahari berakhir, dan wilayah antar bintang dimulai. Di sini ‘angin’ partikel bermuatan dari Matahari melambat akibat tekanan gas tipis yang menghuni ruang antar bintang. Di wilayah termination shock, angin Matahari akan melambat dari kecepatan semula sekitar 1,1-2,4 juta km/jam dan menjadi lebih padat dan panas. Beberapa peneliti saat itu yakin Voyager 1 sudah berada di termination shock, sementara yang lain mengatakan ia masih dalam perjalanan menuju ke sana. Kini, dalam pertemuan Joint Assembly 2005 yang diselenggarakan American Geophysical Union, para astronom kembali mengutarakan keyakinan mereka bahwa Voyager telah berada jauh di termination shock dan kini tengah bergerak menuju ruang antar bintang.

Namun memperkirakan lokasi termination shock bukanlah hal yang mudah, karena kondisi ruang antar bintang sendiri tidak diketahui. Selain itu, perubahan tekanan dan kecepatan angin Matahari telah membuat wilayah termination shock semakin luas dan bergelombang. Satu-satunya bukti paling kuat bahwa Voyager 1 telah memasuki termination shock adalah adanya pengukuran mengenai kenaikan kekuatan medan magnet secara tiba-tiba, yang disertai penurunan kecepatannya. Ini terjadi bila angin Matahari mengalami perlambatan, suatu tanda ia memasuki wilayah tepian tata surya.

Hingga akhir fase Neptunus, proyek Voyager telah menghabiskan dana sebesar 875 juta dolar AS untuk keperluan konstruksi, peluncuran, dan operasional. 30 juta dolar lagi telah dialokasikan dalam dua tahun pertama proyek VIM. Hingga kini, NASA harus mengeluarkan sedikitnya 4,2 juta dollar AS per tahun untuk operasi dan analisis data. Besarnya biaya operasional inilah yang menyebabkan otoritas di NASA meniatkan untuk mengakhiri misi Voyager walaupun kedua wahana itu diyakini masih bisa bertahan setidaknya hingga 15 tahun kedepan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s